+6285219605666 ciptagrafika@gmail.com

Budaya kerja yang positif merupakan salah satu faktor penting yang dapat menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah perusahaan. Namun, sudahkah Anda mengetahui bagaimana budaya kerja positif dapat menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah perusahaan? Artikel berikut akan membahas hal tersebut secara terperinci. Simak sampai habis, ya.

Apa Itu Budaya Kerja?

Budaya kerja adalah konsep atau karakteristik yang dimiliki dan dijalankan oleh setiap pekerja di perusahaan. Selain itu, budaya kerja dapat dikatakan sebagai suatu kebiasaan yang berkembang dan mencerminkan visi misi sebuah perusahaan. Budaya kerja sendiri dapat dilihat dari praktik kepemimpinan, perilaku pekerja, fasilitas tempat kerja, hingga kebijakan perusahaan.

Tujuan Pembentukan Budaya Kerja

Ada beberapa alasan umum pentingnya menciptakan budaya kerja yang positif di perusahaan, antara lain:

  • Menciptakan lingkungan kerja yang positif dan produktif
  • Menarik dan mempertahankan talenta terbaik di perusahaan
  • Meningkatkan komunikasi dan kolaborasi
  • Menciptakan citra perusahaan yang kuat
  • Membantu perusahaan mudah beradaptasi dengan perubahan

Berdasarkan alasan di atas, penting bagi perusahaan untuk menciptakan budaya kerja positif untuk meningkatkan nilai perusahaan.

Baca juga: Serba-serbi Bekerja di Coworking Space

Jenis Budaya Kerja Positif 

Lantas, apa saja jenis-jenis budaya kerja positif yang ada dalam dunia kerja?

Clan Culture

Sesuai dengan namanya, clan culture merupakan budaya kerja yang mengedepankan nilai kekeluargaan antar pekerja. Dalam budaya clan culture, kerja sama, komunikasi dan komitmen saling peduli antar sesama menjadi sebuah prioritas. 

Market Culture

Market culture digambarkan sebagai budaya kerja yang mendorong pekerja untuk saling bersaing secara sehat. Fokusnya adalah orientasi pada target yang ditetapkan sesuai dengan tenggat waktu serta kebutuhan perusahaan. Karenanya, kinerja pekerja dengan budaya market culture biasanya dipantau secara ketat oleh atasan.

Hierarchy Culture

Berbeda dengan clan culture, hierarchy culture lebih menekankan pada konsep kerja yang lebih formal dan terstruktur. Praktik budaya ini ditentukan oleh struktur, aturan, dan rantai komando yang jelas dari atasan. Pekerja diminta untuk mengikuti aturan dan prosedur yang ditetapkan oleh manajemen sekaligus menghormati otoritas. Karenanya, hierarchy culture bisa disebut sebagai budaya kerja yang cukup kaku dibanding yang lainnya. 

Baca juga: Inspirasi Jam Dinding Minimalis Untuk di Kantor

Adhocracy Culture

Terakhir, ada budaya kerja adhocracy culture yang mengutamakan kreativitas dan inovasi. Pekerja ditekankan untuk selalu berpikir imajinatif dan mengembangkan ide-ide baru yang segar untuk perusahaan. Adhocracy culture yang mengusung kreativitas ini menjadi budaya kerja yang bersifat fleksibel namun tetap berorientasi pada hasil.

Tips Membangun Budaya Kerja Positif

Apresiasi Hasil Kerja 

Membangun budaya kerja yang positif di perusahaan bisa dimulai dengan mengapresiasi hasil kerja pekerja. Apresiasi pun tidak harus selalu berupa materi, tapi bisa juga dengan pujian maupun pengakuan di depan umum. Melalui apresiasi, pekerja merasa kerja keras mereka dihargai sehingga dapat mendorong mereka untuk memberikan hasil yang terbaik. 

Membangun Komunikasi Efektif

Komunikasi yang terjalin dengan baik antara atasan dengan pekerja menunjukkan hubungan yang juga baik antar keduanya. Komunikasi efektif juga menunjukkan adanya rasa saling percaya dan kerja sama yang baik antara pekerja dengan atasan. Membangun komunikasi efektif bisa dengan berbagai cara. Mulai dari komunikasi yang terbuka, fokus pada solusi, hingga komunikasi yang jelas dan singkat. 

Melibatkan Pekerja Pada Kolaborasi

Tidak ada salahnya jika perusahaan memberikan ruang bagi pekerja untuk berkolaborasi dengan yang lainnya. Sebab melalui interaksi, kolaborasi dan partisipasi yang intens dapat memicu pekerja untuk berkembang dan bekerja lebih produktif.

Menerapkan Work-Life-Balance (WFB)

Anda pastinya familiar dengan istilah work life balance bukan? WFB merupakan suatu keadaan di mana pekerja dapat menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dengan kehidupan pribadinya. Pada praktiknya, pekerja diberikan waktu yang cukup untuk bekerja, beristirahat dan mengejar minat pribadinya. Tujuannya agar pekerja juga merasa dihargai sebagai manusia, bukan hanya sebagai pekerja saja.

Mengutamakan Kesehatan Pekerja

Beban kerja yang berat dengan tenggat waktu singkat dapat meningkatkan risiko burnout pada pekerja. Burnout dapat berdampak negatif terhadap kinerja pekerja, sehingga perusahaan perlu mengutamakan kesehatan pekerja. Misalnya dengan mengadakan tes kesehatan rutin tahunan. Dengan demikian, pekerja diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif pada perusahaan. 

Jadi, jenis budaya kerja seperti apa yang ada di perusahaan Anda? Apapun itu jika Anda membutuhkan peralatan kantor jangan lupa libatkan Cipta Grafika. Klik di sini untuk melakukan pemesanan.